Minggu, 01 Januari 2017


Bangkit, Tangan Tuhan Membantumu



Selamat tahun baru semua,

Hari ini adalah hari yang spesial bagi semua orang, tak terkecuali diriku. Semalam aku menghabiskan waktu bersama teman-teman OMK yang kukasihi dan mengisi kegiatan sebelum tahun baru bersama budhe, pakdhe, dan anak-anaknya, dan bersama keluargaku juga. Di sela kebahagiaan itu, ada saat ketika aku dipermalukan oleh teman-teman yang laki-laki. Dan untungnya aku bisa mengontrol diri untuk tidak emosi meskipun mood bersenang-senangku sudah hilang.

Esoknya, yaitu hari ini. Aku menjalani hidupku seperti biasa yang membosankan (hanya tiduran dan melihat layar ponsel pintar). Seluruh anggota keluargaku, kecuali aku, pergi ke Purwokerto untuk mengunjungi saudara kami. Disaat ini, aku mulai tersadar betapa aku bodoh sehingga aku mudah dipengaruhi oleh nafsuku atau yang aku percaya adalah suara iblis. Aku belum bisa mengalahkan pikiran ini. Saat-saat menuliskan ini pun aku tidak mudah untuk mengalahkannya dan terus menerus diganggu.

Sudah satu tahun lamanya bahkan lebih aku kehilangan diriku yang dulu. Diriku yang semangat dalam berdoa dalam bentuk aku berada dalam kesunyian bersama-Nya seorang diri (bermeditasi atau bercakap-cakap dengan-Nya meskipun mungkin itu hanya imajinasiku saja), dalam bentuk semangat menyanyi untuk memuji Tuhan, dan dalam bentuk bekerja dan belajar. Aku sungguh-sungguh kehilangan diriku yang lama. Kebiasaanku yang tertinggal hanyalah berdoa dalam bentuk menyanyi. Ada orang berkata bahwa Lucifer merupakan seorang penyanyi yang ulung. Mungkinkah dia tetap memuji Tuhan disela dia ingin menghancurkan manusia? Aku tidak ingin seperti dia. Aku tidak ingin hancur oleh hasrat dia dan pasukannya. Sebuah ponsel pintar dapat menunjang kehidupan kehidupan manusia, namun tak jarang dapat menghancurkan kehidupan manusia. Aku sungguh-sungguh sudah lama tidak berdoa dalam bentuk belajar dan membantu orang tua membersihkan rumah dan berdoa dalam bentuk saat hening semua karena aku menuruti perkataan iblis sehingga aku tak bisa lepas dari ponsel pintar. Aku mungkin bisa terlepas dari ponsel pintar ketika bertemu dan bercakap-cakap dengan orang lain, namun ketika sudah berada di kamar tidur aku tak bisa melepas ponsel pintar itu dariku seakan ada hal yang harus selalu aku lakukan dengan handphoneku meskipun pada akhirnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan percuma.

Sudah 3 semester banyaknya aku larut dalam kemalasan. Semester kali ini, yaitu semester 5, akan menjadi saat terakhir aku malas-malasan. Terakhir kalinya aku berpikiran bahwa aku tak berdaya menghadapi bisikan iblis (pemberi nafsu birahi, pemberi nafsu kemalasan, dll). Aku tidak ingin menjadi diriku yang dari semester 3 hingga semester 5. Tuhan telah memberikan tangan-Nya dan membantuku untuk bangkit. Sebuah sesi pengakuan dosa tidaklah cukup untuk membantuku bangkit. Kali ini, dengan segala sisa tenaga yang aku miliki dan dibantu oleh energi kekal yaitu energi Tuhan sendiri aku akan bangkit dan menerjang dan menghadang serangan iblis.


Lead me to your glory, God. Make me strong and unbeatable as saints are.



Sleman, 1 Januari 2017
Basilius Renal Abimanyu Palumpun