Kamis, 11 Agustus 2016

BERSORAK-SORAILAH BAGI TUHAN, HAI DUNIA

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan
Menyanyilah bagi Tuhan, wahai segenap Bumi”
Pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan-Nya yang datang dari hari ke hari
Ceritakanlah perbuatan-Nya yang ajaib
Ia menjadikan langit dari kehampaan
Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya
Kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya

Berilah Ia kemuliaan nama-Nya
Bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya
Sujudlah menyembah-Nya dengan hiasan tubuh
Yaitu kekudusan

Katakanlah diantara para bangsa : “Tuhan itu Raja! Tak akan goyang dan Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”
Bersukacitalah dan bersorak-sorai lah wahai segenap bumi di hadapan-Nya
Buatlah laut dan isinya bergemuruh karena sorak-soraimu
Sebab Ia akan datang
Ia mendengarkan sorak-soraimu dan bergembira karenanya
Dan Ia akan memberkatimu dengan sukacita

Berjagalah
Karena Ia akan datang dan akan menghakimi dunia dengan keadilan-Nya
Dan menghakimi bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya



Sleman, 11 Agustus 2016

Minggu, 17 Juli 2016

SAAT INDAH DI TEPI SUNGAI PROGO

Setelah sekian lama aku tidak menulis, baru hari ini aku menulis lagi. Aku ingin menceritakan bahwa pada hari Sabtu minggu lalu (9 Juli), aku mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Aku bersyukur karena hari itu aku boleh mendapatkan imajinasi bertemu dan bercerita dengan Tuhan Yesus. Let start to begin this story.
Kegiatan hari ini kujalani seperti biasa dan tidak ada rasa semangat. Hari ini aku diajak pergi oleh keluargaku unutk jalan-jalan menemani calon istri dari sepupuku beserta sepupu-sepupuku disertai orang tua mereka masing-masing dari papaku yang hendak melihat lokasi pernikahannya dan melihat keadaan tanah yang akan mereka gunakan untuk tinggal di daerah istimewa Yogyakarta ini. Awalnya aku malas-malasan untuk meng-iya-kan ajakan orang tuaku. Sambil mengumpulkan nyawa dan semangat, akhirnya, aku meng-iya-kan ajakan mereka. Aku bersiap-siap lalu berangkat. Sepanjang perhentian aku hanya beberapa kali turun dari mobil. Saat di gereja Katolik Pakem, tempat pemberkatan mereka, aku keluar dari kendaraan. Saat di lokasi resepsi aku pun keluar mobil.
Selingan, lokasi resepsi itu sangat indah. Lokasinya di jalan Kaliurang km 20 atau berapa, bernama Kalyana, lokasinya sangat strategis. Tempatnya ada kolam renang dan tempat duduk untuk rebahan di sampingnya. Dan cuaca saat itu berangin dan sangat teduh.
Lanjut ke cerita, sepanjang perjalanan aku merasa pusing, itulah sebabnya aku sangat malas untuk keluar mobil. Di mobil, aku selalu tiduran di kursi paling belakang karena kebetulan aku duduk sendiri di belakang. Aku keluar ketika aku merasa kepanasan di dalam mobil dan saat aku ingin bercerita dengan sepupu-sepupuku dan keluargaku.
Cerita tentang pertemuanku dengan Yesus berawal ketika kami sampai di gua Maria Sendang Jatiningsih tepat di sebelah sungai Progo. Sesampainya di Jatiningsih, aku berimajinasi sehingga aku ingin sekali turun ke bawah, ke sungai Kulon Progo. Akhirnya aku turun. Aku sempat berdiam diri di sungai Progo sambil merasakan hembusan angin dan aliran sungai Progo yang menyentuh bulu-bulu pada kakiku dan kulit kakiku. Aku merasa tenang disana, tapi ada satu hal yang menggangguku disana. Aku sedikit ketakukan melihat batu besar di 5 meter setelah tepi sungai yang dapat memecah kencangnya aliran air sungai. Imajinasiku pun mulai bermain kembali, aku takut kalau batu besar itu adalah buaya, akhirnya aku naik ke tepi. Dan mengakhiri petualanganku menuju sungai Progo dan kembali keatas, ke tempat doa Jatiningsih. Dengan tenaga yang masih banyak dan dengan mengeluarkan keringat yang banyak akhirnya aku sampai lagi di atas. Setelah air keringatku cukup kering aku pun cuci muka dan kaki. Aku hening sejenak di dekat tempat duduk adikku yang setelah berdoa bermain smartphonenya. Aku hening dan disaat hening itu aku merasa seperti merasa ingin sekali berdoa di kapel adorasi. Karena jujur saja, aku justru tidak bisa berdoa kalau berada di depan patung Bunda Maria atau salib Yesus di Sendang Jatiningsih. Aku tidak merasa “klik”. Aku akhirnya naik ke kapel adorasi.
Petualangan dimulai disini. Aku masuk, membuat tanda salib. Berlutut dan meditasi sejenak. Menutup mata, menegakkan tulang belakangku, dan menyilangkan kakiku, serta menarik napas dengan berkata Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Entah di menit keberapa, aku mulai berimajinasi namun aku masih bisa merasakan tubuhku dan merasakan tarikan dan hembusan napasku. Di imajinasiku itu, aku masih berada di sekitar Jatiningsih terutama di kapel tetapi dengan pemandangan yang berbeda. Kapel itu sekarang berada di atas jurang tepi sungai Kulon Progo, tanpa pohon yang menutupi tampaknya sungai dan daratan seberang sungai. Aku berjalan keluar kapel lewat pintu samping, awalnya aku masuk lewat pintu depan. Aku berjalan mendekati pinggir tepi sungai, mendekati pegangan di dekat situ. Tiba-tiba dari belakang muncul sosok yang aku kenal di gambar-gambar rumahku. Ya, dia Yesus. Dia mendekatiku dan memberikan salam “hai” sambil menyampingkan badannya dari pinggir sungai, memandangku, sembari menyenderkan tangan-Nya di atas besi pegangan. Aku pun menjawab sapaan-Nya. Setelah itu, aku bercerita banyak hal pada-Nya. Aku sudah lupa bercerita apa saja pada-Nya. Yang aku ingat adalah 3 hal. Pertama, aku bertanya tentang panggilanku, kedua aku bertanya tentang perempuan, ketiga aku bertanya tentang membantu orang tua membersihkan rumah. Aku lupa urutannya, tapi mari kita mulai saja.
Aku bertanya, “Yesus, apa salah kalau aku biarin mamaku kerja bersih-bersih rumah sendiri? Menurutku sih, lumayan untuk beliau olahraga.” Yesus pun menjawab, “Kamu salah, tidak tahukah kamu kalau mamamu itu mengeluh dan sedih ketika dia bekerja sendirian? Tidak kasihan kah kamu melihat dia keletihan? Yang harus kamu pegang adalah membantu orang tua agar orang tuamu bahagia dan senang melihat kamu membantunya membersihkan rumah. Perasaan bahagia dan senang itu sangat mahal harganya loh. Begini, masalah kesehatan itu adalah urusan-Ku. Dia tidak olahraga pun kalau aku mau dia sehat ya dia pasti sehat. Jadi ingatlah, kamu membantu bukan seperti diperbudak, tetapi demi meraih kebahagiaan dan senang dari mamamu. Tidak senangkah kamu melihat senyuman dan pujian darinya ketika kamu membantunya membersihkan rumah?” “Sangat bahagia, Yesus”, kataku.
“Yesus, aku mau tanya lagi. Bener gak sih kalau aku kamu panggil jadi romo?” Yesus pun menjawab, “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu harus menemukannya sendiri. Aku akan memberikan jawaban ketika kamu telah menemukanku di suatu peristiwa. Coba kamu ikuti saran dari romo Nano. Benar kata dia, coba kamu masuk dulu disana. Lebih baik mencoba sebelum menikah daripada sudah beberapa tahun menikah menyesal karena bukan panggilan hatimu.” Aku pun hanya termenung mendengar perkataan-Nya.
“Yesus, aku mau tanya, kenapa sih banyak cewek yang nolak aku bahkan gak mau sama aku?” Dia pun menjawab, “Kamu belum siap. Ada saatnya aku memberikanmu wanita yang kamu idamkan. Sekarang kamu harus mengembangkan dirimu dulu. Tunjukkan kalau kamu sudah siap. Jaga baik-baik kesucianmu.” Kami sempat saling pandang sejenak kemudian kami sama-sama memandang sungai di depan kami dan kemudian semua menjadi gelap.

Semua kubawa dalam doa dan semua berakhir disini. Petualanganku bersama Yesus hari itu berakhir disini. Aku percaya suatu saat nanti kami akan bertemu kembali entah dalam meditasi lagi atau dalam perayaan Ekaristi, dan lain-lain.

Sleman, 17 Juli 2016

Rabu, 27 April 2016

INSIDE ME IS A WARRIOR

Hari ini aku merasa aku sangatlah malas. Sungguh malas. Aku menghabiskan waktuku untuk menonton TV dan bersosial media meski tidak tahu siapa yang aku ajak chatting. Ah, betapa buruknya aku. Kemarin, aku akhirnya kembali mengikuti komunitas yang kira-kira 3 minggu lamanya tidak aku ikuti. Aku sharing ke mereka tentang apa yang kurasakan. Aku benar-benar kosong. Pikiranku kosong. Kemalasan. Dan imajinasi-imajinasi liar tentang perempuan kembali memenuhi pikiranku. Tuhanku, mengapa ini terjadi? Ya, aku ingat betul bahwa aku sudah 3 minggu tidak berdoa Kerahiman Ilahi. Sungguh, aku selalu merasa mengantuk pada saat jam 3 sore. Namun, bila kurenungkan, semua itu terjadi karena aku terlalu sering membuka sosial media di smartphoneku dan menonton televise. Karena mereka berdua kantukku tak tertahankan. Selesai sharing, aku diberi sedikit nasihat oleh pendamping kelompok. Begini isinya “Selesai Seminar Hidup Baru dalam roh kita akan menggebu-gebu iman kita berapi-api, semangat hidup kita menyala-nyala. Tapi, ada satu makhluk yang tidak suka dengan itu semua dan ia akan berusaha meredupkan semangat itu. Ya, setan. Musuh terbesar dan terkuat kita. Dia merubah kita tidak secara drastis dari yang baik menjadi jahat, dari yang jujur menjadi pembohong, dari yang mengusahakan sesuatu untuk kelangsungan hidup kita dengan jalan yang diharapkan Tuhan menjadi seorang perampok atau koruptor demi menjamin kelangsungan hidup kita. Dia merubah kita sedikit demi sedikit. Dia akan merubah jalan kita yang mulanya 180 derajat menuju Tuhan menjadi 197 atau kurang atau lebih dari itu, sedikit demi sedikit agar kita tidak dapat merasakannya. Hal pertama yang dia berikan adalah kemalasan. Ya, inilah masalah yang terlihat kecil bagi kita ternyata akan berdampak sangat buruk bagi kita sendiri. Intinya adalah penguasaan diri. Bagaimana caranya agar mampu menguasai diri sendiri? Berdoa dan bermeditasi, itulah intinya.”
Meditasi, hari ini aku melakukannya. Kupejamkan mataku sejenak dan seketika aku berada diatas perbukitan. Hijau dan sangat segar. Aku berjalan-jalan sejenak di bukit itu. Dari kejauhan aku melihat segerombolan orang berkumpul. Aku mendekati mereka. Oh iya, pakaianku waktu itu seketika berubah. Aku membawa sebilah pedang dan memakai baju zirah, sama seperti ksatria yang memakai pakaian perang ketika masa kerajaan. Dengan gaya seperti ksatria yakni tangan kanan memegang gagang pedang, aku mendekati gerombolan orang itu. Ketika nyaris bertatap muka, aku melihat ada seorang yang sangat mirip dengan lukisan-lukisan Yesus zaman ini. Ia berambut panjang dan tampan. Di sekitarnya ada 4 orang anak kecil. Sepertinya pria ini sedang mengajari anak-anak itu. Dibelakang mereka ada seorang ksatria, dengan tangan satu bersandar di bawah pohon sembari memakan sebuah apel. Apel itu berwarna hijau, ia baru memakannya sedikit ketika aku masih agak jauh dari tempat itu. Aku penasaran dengan lelaki itu tentang yang ia sedang lakukan terhadap 4 orang anak itu. Aku dekati lagi. Ah, ternyata ia sedang mengajari mereka menggambar. Ya, tempat itu sepertinya memang sangat cocok untuk menggambar maupun melukis. Di tempat kami itu terdapat bukit lain di sebelah utara kami. Hijau dan sungguh pemandangan disana sungguh indah.
Aku kembali merasakan tubuh asliku. Bulu kudukku merinding dan aku merasa dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata mengelilingiku. Jujur, aku sedikit takut. Aku lupa bahwa ketika bermeditasi aku harus menyebutkan nama Yesus ketika menarik dan menghembuskan napas. Seketika suasana kembali lagi menjadi nyaman. Kemudian aku kembali terangkat dan masuk kedalam suatu tempat dan disaat itu aku mengadu pedang dengan sebuah/seorang makhluk/manusia namun ketika aku merasakan tubuhku di tempat itu, ia menerkamku dan seketika aku membuka mata dan kembali ke kehidupanku seperti semula.
Semoga dengan meditasi ini dan seterusnya, aku semakin mampu mengendalikan diriku sendiri sehingga hidupku lebih berguna dan menyenangkan. Untuk saat ini, aku merasakan damai dan ketenangan batin namun bila aku biasakan setiap hari aku percaya hidupku akan jauh lebih baik lagi.



Sleman, 27 April 2016

Selasa, 05 April 2016

THIS IS ME AND I'M READY, GOD

Sleman, 3 April 2016. Hari ini aku merasakan kasih Allah yang sungguh luar biasa. Aku bisa berkata seperti ini karena, ini. Hari Minggu merupakan hari dimana OMK (Orang Muda Katolik) parokiku berjualan setiap hari demi mengisi kas kepengurusan. Biasanya, tiap selesai berjualan aku tidak ingin pulang dan pasti menghabiskan waktuku untuk berbincang-bincang dengan mereka. Kali ini, aku memutuskan untuk mengakhiri pertemuan dengan mereka di siang itu. Aku pulang. Sesampainya di rumah, aku tak tahu harus melakukan apa. Namun, ada suatu bisikan dan imajinasi yang mengatakan dan bercerita “Kayaknya seru kalau baca Alkitab”, akhirnya aku membaca Alkitab. Tak lama, seselainya aku membaca satu bab, ada lagi imajinasi yang mengatakan “Kayaknya kalau baca Alkitab di sawah asik juga nih” then I go. Jam menunjukkan pukul 14.00 dimana sang mentari mengeluarkan tenaganya yang sebesar-besarnya, namun aku tetap merasa nyaman disana. Panas bukan penghalang bagiku. Aku menikmati teriknya sang mentari. Aku tidak menolak teriknya namun aku menerimanya dan menikmatinya. Dengan menerima, sang mentari tidak membahayakan kita.
Selesailah sudah dua bab kubaca disana, terciptalah lagi imajinasi “Kayaknya kalau baca disana asik juga”. Akhirnya aku menuju tujuanku yaitu “buk” sungai di sawah itu. Di perjalanan, dengan Alkitab di tangan kananku, aku merasa tangan kananku ditarik dan angin berhembus kencang dan aku seperti merasa di depanku ada seseorang yang menuntunku. Sedikit lagi sampai, tapi tunggu, aku dihentikan pada suatu tempat, aliran sebelum tempat itu. Kulihat bahwa banyak sekali sampah disana. Oh Tuhan, betapa buruk masyarakat Indonesia itu. Membuang sampah sembarangan. Tidak sadarkah mereka bahwa membuang sampah membuat pemandangan menjadi tidak sedap dipandang selain itu dapat menyebabkan banjir akibat pendangkalan dasar sungai dan menyumbat sungai sehingga tekanannya besar dan ketika tumpukan sampah tersebut sudah tidak kuat menahannya maka akan terjadi hal yang tidak kita harapkan, banjir. Lanjut cerita, dengan tuntutan hati kecilku, aku membersihkan semuanya di daerah itu. Namun, aku tidak menyiapkan kantong plastik untuk menaruhnya. Ah, ada sekantong plastik yang masih cukup baik untuk kugunakan. Niat baik selalu dilindungi oleh Tuhan. Ketika aku mengambil sampah yang cukup jauh, aku menjejakkan kakiku ke dasar sungai yang dangkal itu, aku merasakan bahwa di bawah kakiku terdapat pula sampah. Setelah sampah jauh itu kuambil, aku mengambil sampah yang dibawah kakiku itu dan begitu kutarik sampah itu, aku bersyukur, karena ternyata sampah itu adalah pecahan gelas kaca.
Aku pulang, dua kantong plastik berisi sampah aku buang pada tempatnya. Sesampainya di rumah aku melakukan kebiasaan yang telah lama kutinggalkan, doa Kerahiman Ilahi. Aku sungguh-sungguh rindu bertemu dengan Yesus dalam doa itu. Aku rindu, sangat-sangat rindu. Aku berdoa sepenuh hati dan ketika aku benar-benar mengatakan bahwa aku rindu dan bertemu diri-Nya, Ia memberikan damai dan tugas untuk melihat kesungguhanku. Aku bertugas lektor (pembaca firman Tuhan), tak kusangka kala itu. Aku yang hanya berniat untuk menyampaikan rinduku pada-Nya dengan mengikuti misa diberikan berkat 2 kali lipat. Delapan menit sebelum misa dimulai, aku dimintai tolong oleh teman gereja yang kala itu bertugas sebagai koor namun ia juga seorang lektor. Aku sejenak bertanya “Tapi Tuhan, aku tidak melakukan persiapan apapun, aku takut mengecewakan-Mu”. Namun, tanpa berlama-lama lagi aku langsung pergi dan aku berkata “ya Tuhan, aku bersedia, bimbinglah aku”. Keajaiban kata “ya” untuk Tuhan membuatku dimampukan dan melampaui kemampuanku. Aku pernah suatu ketika berlatih lektor, namun tidak sebagus ini. Suaraku, intonasi, dinamikaku sungguh diluar kemampuan dasarku. Aku melihat seluruh umat, dan banyak umat yang mendengarkanku dengan serius dan ada pula yang merenung dengan memejamkan mata. Sungguh, keajaiban ini membuat aku semakin bahagia. Puncak kebahagiaanku aku serahkan pada saat doa umat. Aku sungguh mendoakan apa yang ada di dalam kertas panduan, dan rasanya “wow”. Sejenak aku merasa di hadapanku seperti Yesus benar-benar menatapku dengan penuh kesungguhan. Oh Tuhan, inikah kebahagiaan surgawi? Sepanjang misa, aku menyanyikan lagu-lagu yang aku tahu dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Aku tidak dapat membendung keharuanku. Sejenak aku menangis terharu. Allahku ya Allahku, Engkau kah itu yang datang ke hadapanku. Engkau kah itu yang menyerahkan tubuh dan darah-Mu dalam rupa roti dan anggur di altar? Tuhan, sungguh aku dapat merasakan kehadiran-Mu. Kasih-Mu yang besar sungguh mengubah hidupku.
Selesainya misa sungguh mengubah hidupku. Awalnya aku merasa putus asa, aku bingung harus berbuat apa. Namun kali ini, aku lebih semangat dalam hidupku. Segala masalah hidupku kini bukan apa-apa. Namun, kadang kala, aku jatuh, ketika aku cemburu pada seseorang yang kelihatannya lebih perhatian dan lebih bermakna di mata perempuan yang aku sayangi itu. Aku sedih, aku cemburu, aku sakit hati, hatiku patah Tuhan. Namun, Tuhan menyembuhkan patah hatiku di jam 1 – 2 pagi hari di hari Rabu. Ia menunjukkan aku berbagai macam video renungan mengenai Dia dan permasalahan hidupku. “Tuhan, terima kasih. Sekarang aku tahu, aku tidak akan bermotivasi semangat dalam hidup untuk manusia tapi aku akan bersemangat dalam hidupku terutama melawan kemalasanku demi melayakkan diriku demi diri-Mu dan setelah itu aku akan berdiri, menjaga tonggak arah penunjuk jalan menunju rumah-Mu sampai pada akhirnya Engkaulah yang hadir sendiri untuk mengakhiri tugas perutusanku. Tuhan inilah aku, pakailah aku, kuatkan aku ketika aku jatuh, hiburlah aku ketika sedih, dan berikanlah aku sukacita surga.” You raise me up, God. And this is me. I’m ready. Walk with me and guide me your way.


Sleman, 6 April 2016
APAKAH INI?

Malam demi malam kulewati
Hidup ini memang beragam
Ada susah, ada mudah
Ada sedih, ada senang
Kadang kita bisa bahagia ketika situasi sedih

Hari ini, ya hari ini, patahlah hatiku sejadi-jadinya
Ia mematahkan perasaanku
Tapi patah ini menginspirasiku
Aku tak sakit

Ketika gelap gulita aku menantikan terang
Ketika terang datang, aku mengira itulah cahaya sejati
Kuikuti terang itu dan berakhir pada kegelapan kembali
Aaaaaaaaaaaaaaaa……………
Aku marah
Aku kesal
Aku sedih
Aku menangis
Aku melakukannya sejadi-jadinya
Aku tak tau harus bagaimana

Disaat keterpurukanku, ada seberkas cahaya
Terang, lebih terang dari yang sebelumnya
Aku tak dapat memandang wajahnya
Namun aku dapat melihat tangannya terulur kepadaku
Aku yang melihat tangannya terulur tanpa pikir panjang langsung kurengkuh
Aku sekarang dapat berdiri lagi
Meski terang, aku dapat sedikit melihat pola wajahnya
Mungkinkah itu Dia
Rasanya damai ketika kurengkuh tangan-Nya
Aku tak memikirkan lagi kesedihanku
Masa lalu
Kini aku bangkit, bersama-Nya
Menatap kembali masa depan yang sempat tertutup



Sleman, 5 April 2016

Minggu, 03 April 2016

BUKAN, BUKAN DIA
(Karya : Basilius Renal Abimanyu Palumpun)

Disaat mendung menyelimuti hatiku
Disaat mendung menyelubungi jiwa dan otakku
Apa yang dapat kulakukan?
Aku hanya dapat pasrah
Putus asa
Dunia tidak ada artinya
Bosan
Sungguh membosankan

Api cemburu telah menyelubungi pikiranku
Fokusku hanya pada “dia”
Bodoh! Perempuan tidak hanya “dia”
Tapi aku mencintai “dia”
Aku sungguh mencintai dia
Aku tak ingin kehilangan dia
Dia yang pernah mengisi hatiku
Aku sayang padanya meski ia telah mengecewakanku 2 kali

Kalau dipikir betapa bodoh diri ini
Tapi aku sudah tidak bisa melupakan dia
Aku terlalu sayang padanya
Meski ada seorang gadis yang mencintai aku dengan tulus
Disaat aku terpuruk akibat kekecewaan, ia masih mau mendekati aku

Kata-kataku sangat tidak baik, namun dia masih mau menerimaku dengan tulus hati
Betapa besar kasihnya, tapi aku tidak mencintai dia
Ia mengingatkan aku ketika aku berkata-kata kasar
Ia memberikanku nasihat-nasihat
Tapi aku memang tidak tertarik padanya

Bukan, bukan dia
Tapi mungkinkah dia yang terbaik untuk aku?
Tuhan jawablah aku
Aku ingin mendengar suara dan jawaban-Mu

Sleman, 3 April 2016

Jumat, 01 April 2016

Hati yang Hancur
Dipulihkan Kembali
Karya : Basilius Renal Abimanyu Palumpun

Kutemukan seorang gadis
Gadis itu manis, cantik, dan pemberani
Kupandangi dia, kudekati dia
Ah betapa bahagia
Saking bahagianya, aku lupa dengan risiko
Risiko jatuh yang akan menimpaku
Aku terlalu bahagia dengan pendekatan itu
Aku lupa dia kan gadis yang pasti menarik hati banyak kaum pria
Dan akhirnya, apa yang tidak diharapkan itu terjadi

Gading pun retak
Hati ini bagai diremukkan dalam penggilingan padi
Hancur, bersisa kepingan debu, teroles dalam batinku
Pikiran ini tak tenang,
Lemparan-lemparan joke yang biasa bisa kulempar kembali kini lenyap
Lenyap tak menyisakan setitik bayang pun dalam pelupuk mata
Aku tak fokus
Fokus itu terpecah
Ingin kuberteriak sekencang-kencangnya
Kuhempaskan tubuhku ke tanah
Berteriak
Melompat
Dan berlari

Titik air hujan bagai merindukan bumi
Mata ini seperti tak dapat menahan genangannya
Basah
Kantung mata ini mengendur
Tidak, hati ini masih dapat menahannya
Namun, sungguh sakit

Tak ada dalam benakku ingin memiliki dia
Yang ada dalam benakku hanya ingin mendekati dia tanpa obsesi memiliki dia
Tapi mengapa hati ini sakit ketika melihat ia bermesraan dengan yang lain?
Egois, aku egois,
Nicht, perasaan manusiawi ini tak dapat aku bendung
Aliran sungai air cinta ini terlalu mengalir begitu deras
Aku tak gelap mata,
Menaksir seorang gadis saja,
Tapi melihatnya bersama orang lain?
Di depan mataku sendiri
Adakah lebih hancur selain padi di dalam penggiling?

Aku tak tau apa yang harus kulakukan
Aku bingung
Aku tak bisa sebaik dia
Aku jatuh
Biarlah Sang Pemilik hati ini mengobati lukaku ini

Kudiam
Kutemukan jawabannya
Inilah jawabannya



Sleman, 1 April 2016