SAAT INDAH DI TEPI SUNGAI PROGO
Setelah
sekian lama aku tidak menulis, baru hari ini aku menulis lagi. Aku ingin
menceritakan bahwa pada hari Sabtu minggu lalu (9 Juli), aku mendapatkan
pengalaman yang luar biasa. Aku bersyukur karena hari itu aku boleh mendapatkan
imajinasi bertemu dan bercerita dengan Tuhan Yesus. Let start to begin this
story.
Kegiatan
hari ini kujalani seperti biasa dan tidak ada rasa semangat. Hari ini aku
diajak pergi oleh keluargaku unutk jalan-jalan menemani calon istri dari
sepupuku beserta sepupu-sepupuku disertai orang tua mereka masing-masing dari
papaku yang hendak melihat lokasi pernikahannya dan melihat keadaan tanah yang
akan mereka gunakan untuk tinggal di daerah istimewa Yogyakarta ini. Awalnya
aku malas-malasan untuk meng-iya-kan ajakan orang tuaku. Sambil mengumpulkan
nyawa dan semangat, akhirnya, aku meng-iya-kan ajakan mereka. Aku bersiap-siap
lalu berangkat. Sepanjang perhentian aku hanya beberapa kali turun dari mobil.
Saat di gereja Katolik Pakem, tempat pemberkatan mereka, aku keluar dari
kendaraan. Saat di lokasi resepsi aku pun keluar mobil.
Selingan,
lokasi resepsi itu sangat indah. Lokasinya di jalan Kaliurang km 20 atau
berapa, bernama Kalyana, lokasinya sangat strategis. Tempatnya ada kolam renang
dan tempat duduk untuk rebahan di sampingnya. Dan cuaca saat itu berangin dan
sangat teduh.
Lanjut
ke cerita, sepanjang perjalanan aku merasa pusing, itulah sebabnya aku sangat
malas untuk keluar mobil. Di mobil, aku selalu tiduran di kursi paling belakang
karena kebetulan aku duduk sendiri di belakang. Aku keluar ketika aku merasa
kepanasan di dalam mobil dan saat aku ingin bercerita dengan sepupu-sepupuku
dan keluargaku.
Cerita
tentang pertemuanku dengan Yesus berawal ketika kami sampai di gua Maria
Sendang Jatiningsih tepat di sebelah sungai Progo. Sesampainya di Jatiningsih,
aku berimajinasi sehingga aku ingin sekali turun ke bawah, ke sungai Kulon
Progo. Akhirnya aku turun. Aku sempat berdiam diri di sungai Progo sambil
merasakan hembusan angin dan aliran sungai Progo yang menyentuh bulu-bulu pada
kakiku dan kulit kakiku. Aku merasa tenang disana, tapi ada satu hal yang
menggangguku disana. Aku sedikit ketakukan melihat batu besar di 5 meter
setelah tepi sungai yang dapat memecah kencangnya aliran air sungai.
Imajinasiku pun mulai bermain kembali, aku takut kalau batu besar itu adalah
buaya, akhirnya aku naik ke tepi. Dan mengakhiri petualanganku menuju sungai
Progo dan kembali keatas, ke tempat doa Jatiningsih. Dengan tenaga yang masih
banyak dan dengan mengeluarkan keringat yang banyak akhirnya aku sampai lagi di
atas. Setelah air keringatku cukup kering aku pun cuci muka dan kaki. Aku
hening sejenak di dekat tempat duduk adikku yang setelah berdoa bermain
smartphonenya. Aku hening dan disaat hening itu aku merasa seperti merasa ingin
sekali berdoa di kapel adorasi. Karena jujur saja, aku justru tidak bisa berdoa
kalau berada di depan patung Bunda Maria atau salib Yesus di Sendang
Jatiningsih. Aku tidak merasa “klik”. Aku akhirnya naik ke kapel adorasi.
Petualangan
dimulai disini. Aku masuk, membuat tanda salib. Berlutut dan meditasi sejenak.
Menutup mata, menegakkan tulang belakangku, dan menyilangkan kakiku, serta
menarik napas dengan berkata Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Entah di menit
keberapa, aku mulai berimajinasi namun aku masih bisa merasakan tubuhku dan
merasakan tarikan dan hembusan napasku. Di imajinasiku itu, aku masih berada di
sekitar Jatiningsih terutama di kapel tetapi dengan pemandangan yang berbeda.
Kapel itu sekarang berada di atas jurang tepi sungai Kulon Progo, tanpa pohon
yang menutupi tampaknya sungai dan daratan seberang sungai. Aku berjalan keluar
kapel lewat pintu samping, awalnya aku masuk lewat pintu depan. Aku berjalan
mendekati pinggir tepi sungai, mendekati pegangan di dekat situ. Tiba-tiba dari
belakang muncul sosok yang aku kenal di gambar-gambar rumahku. Ya, dia Yesus.
Dia mendekatiku dan memberikan salam “hai” sambil menyampingkan badannya dari
pinggir sungai, memandangku, sembari menyenderkan tangan-Nya di atas besi
pegangan. Aku pun menjawab sapaan-Nya. Setelah itu, aku bercerita banyak hal
pada-Nya. Aku sudah lupa bercerita apa saja pada-Nya. Yang aku ingat adalah 3
hal. Pertama, aku bertanya tentang panggilanku, kedua aku bertanya tentang
perempuan, ketiga aku bertanya tentang membantu orang tua membersihkan rumah.
Aku lupa urutannya, tapi mari kita mulai saja.
Aku
bertanya, “Yesus, apa salah kalau aku biarin mamaku kerja bersih-bersih rumah
sendiri? Menurutku sih, lumayan untuk beliau olahraga.” Yesus pun menjawab,
“Kamu salah, tidak tahukah kamu kalau mamamu itu mengeluh dan sedih ketika dia
bekerja sendirian? Tidak kasihan kah kamu melihat dia keletihan? Yang harus
kamu pegang adalah membantu orang tua agar orang tuamu bahagia dan senang
melihat kamu membantunya membersihkan rumah. Perasaan bahagia dan senang itu
sangat mahal harganya loh. Begini, masalah kesehatan itu adalah urusan-Ku. Dia
tidak olahraga pun kalau aku mau dia sehat ya dia pasti sehat. Jadi ingatlah,
kamu membantu bukan seperti diperbudak, tetapi demi meraih kebahagiaan dan
senang dari mamamu. Tidak senangkah kamu melihat senyuman dan pujian darinya
ketika kamu membantunya membersihkan rumah?” “Sangat bahagia, Yesus”, kataku.
“Yesus,
aku mau tanya lagi. Bener gak sih kalau aku kamu panggil jadi romo?” Yesus pun
menjawab, “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu harus menemukannya
sendiri. Aku akan memberikan jawaban ketika kamu telah menemukanku di suatu
peristiwa. Coba kamu ikuti saran dari romo Nano. Benar kata dia, coba kamu
masuk dulu disana. Lebih baik mencoba sebelum menikah daripada sudah beberapa
tahun menikah menyesal karena bukan panggilan hatimu.” Aku pun hanya termenung
mendengar perkataan-Nya.
“Yesus,
aku mau tanya, kenapa sih banyak cewek yang nolak aku bahkan gak mau sama aku?”
Dia pun menjawab, “Kamu belum siap. Ada saatnya aku memberikanmu wanita yang
kamu idamkan. Sekarang kamu harus mengembangkan dirimu dulu. Tunjukkan kalau
kamu sudah siap. Jaga baik-baik kesucianmu.” Kami sempat saling pandang sejenak
kemudian kami sama-sama memandang sungai di depan kami dan kemudian semua
menjadi gelap.
Semua
kubawa dalam doa dan semua berakhir disini. Petualanganku bersama Yesus hari
itu berakhir disini. Aku percaya suatu saat nanti kami akan bertemu kembali
entah dalam meditasi lagi atau dalam perayaan Ekaristi, dan lain-lain.
Sleman, 17 Juli 2016