INSIDE ME IS A WARRIOR
Hari
ini aku merasa aku sangatlah malas. Sungguh malas. Aku menghabiskan waktuku
untuk menonton TV dan bersosial media meski tidak tahu siapa yang aku ajak chatting. Ah, betapa buruknya aku. Kemarin,
aku akhirnya kembali mengikuti komunitas yang kira-kira 3 minggu lamanya tidak
aku ikuti. Aku sharing ke mereka tentang apa yang kurasakan. Aku benar-benar
kosong. Pikiranku kosong. Kemalasan. Dan imajinasi-imajinasi liar tentang
perempuan kembali memenuhi pikiranku. Tuhanku, mengapa ini terjadi? Ya, aku
ingat betul bahwa aku sudah 3 minggu tidak berdoa Kerahiman Ilahi. Sungguh, aku
selalu merasa mengantuk pada saat jam 3 sore. Namun, bila kurenungkan, semua
itu terjadi karena aku terlalu sering membuka sosial media di smartphoneku dan menonton televise. Karena
mereka berdua kantukku tak tertahankan. Selesai sharing, aku diberi sedikit
nasihat oleh pendamping kelompok. Begini isinya “Selesai Seminar Hidup Baru
dalam roh kita akan menggebu-gebu iman kita berapi-api, semangat hidup kita
menyala-nyala. Tapi, ada satu makhluk yang tidak suka dengan itu semua dan ia
akan berusaha meredupkan semangat itu. Ya, setan. Musuh terbesar dan terkuat
kita. Dia merubah kita tidak secara drastis dari yang baik menjadi jahat, dari
yang jujur menjadi pembohong, dari yang mengusahakan sesuatu untuk kelangsungan
hidup kita dengan jalan yang diharapkan Tuhan menjadi seorang perampok atau
koruptor demi menjamin kelangsungan hidup kita. Dia merubah kita sedikit demi
sedikit. Dia akan merubah jalan kita yang mulanya 180 derajat menuju Tuhan
menjadi 197 atau kurang atau lebih dari itu, sedikit demi sedikit agar kita
tidak dapat merasakannya. Hal pertama yang dia berikan adalah kemalasan. Ya,
inilah masalah yang terlihat kecil bagi kita ternyata akan berdampak sangat
buruk bagi kita sendiri. Intinya adalah penguasaan diri. Bagaimana caranya agar
mampu menguasai diri sendiri? Berdoa dan bermeditasi, itulah intinya.”
Meditasi,
hari ini aku melakukannya. Kupejamkan mataku sejenak dan seketika aku berada
diatas perbukitan. Hijau dan sangat segar. Aku berjalan-jalan sejenak di bukit
itu. Dari kejauhan aku melihat segerombolan orang berkumpul. Aku mendekati
mereka. Oh iya, pakaianku waktu itu seketika berubah. Aku membawa sebilah
pedang dan memakai baju zirah, sama seperti ksatria yang memakai pakaian perang
ketika masa kerajaan. Dengan gaya seperti ksatria yakni tangan kanan memegang
gagang pedang, aku mendekati gerombolan orang itu. Ketika nyaris bertatap muka,
aku melihat ada seorang yang sangat mirip dengan lukisan-lukisan Yesus zaman
ini. Ia berambut panjang dan tampan. Di sekitarnya ada 4 orang anak kecil. Sepertinya
pria ini sedang mengajari anak-anak itu. Dibelakang mereka ada seorang ksatria,
dengan tangan satu bersandar di bawah pohon sembari memakan sebuah apel. Apel itu
berwarna hijau, ia baru memakannya sedikit ketika aku masih agak jauh dari
tempat itu. Aku penasaran dengan lelaki itu tentang yang ia sedang lakukan
terhadap 4 orang anak itu. Aku dekati lagi. Ah, ternyata ia sedang mengajari
mereka menggambar. Ya, tempat itu sepertinya memang sangat cocok untuk
menggambar maupun melukis. Di tempat kami itu terdapat bukit lain di sebelah
utara kami. Hijau dan sungguh pemandangan disana sungguh indah.
Aku
kembali merasakan tubuh asliku. Bulu kudukku merinding dan aku merasa
dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata mengelilingiku. Jujur, aku sedikit
takut. Aku lupa bahwa ketika bermeditasi aku harus menyebutkan nama Yesus
ketika menarik dan menghembuskan napas. Seketika suasana kembali lagi menjadi
nyaman. Kemudian aku kembali terangkat dan masuk kedalam suatu tempat dan
disaat itu aku mengadu pedang dengan sebuah/seorang makhluk/manusia namun
ketika aku merasakan tubuhku di tempat itu, ia menerkamku dan seketika aku
membuka mata dan kembali ke kehidupanku seperti semula.
Semoga
dengan meditasi ini dan seterusnya, aku semakin mampu mengendalikan diriku
sendiri sehingga hidupku lebih berguna dan menyenangkan. Untuk saat ini, aku
merasakan damai dan ketenangan batin namun bila aku biasakan setiap hari aku
percaya hidupku akan jauh lebih baik lagi.
Sleman, 27 April
2016