Bangkit, Tangan Tuhan Membantumu
Selamat tahun baru semua,
Hari ini adalah hari yang spesial
bagi semua orang, tak terkecuali diriku. Semalam aku menghabiskan waktu bersama
teman-teman OMK yang kukasihi dan mengisi kegiatan sebelum tahun baru bersama budhe, pakdhe, dan anak-anaknya, dan bersama keluargaku juga. Di sela kebahagiaan itu, ada saat ketika aku dipermalukan
oleh teman-teman yang laki-laki. Dan untungnya aku bisa mengontrol diri untuk
tidak emosi meskipun mood bersenang-senangku sudah hilang.
Esoknya, yaitu hari ini. Aku menjalani
hidupku seperti biasa yang membosankan (hanya tiduran dan melihat layar ponsel
pintar). Seluruh anggota keluargaku, kecuali aku, pergi ke Purwokerto untuk
mengunjungi saudara kami. Disaat ini, aku mulai tersadar betapa aku bodoh
sehingga aku mudah dipengaruhi oleh nafsuku atau yang aku percaya adalah suara
iblis. Aku belum bisa mengalahkan pikiran ini. Saat-saat menuliskan ini pun aku
tidak mudah untuk mengalahkannya dan terus menerus diganggu.
Sudah satu tahun lamanya bahkan
lebih aku kehilangan diriku yang dulu. Diriku yang semangat dalam berdoa dalam
bentuk aku berada dalam kesunyian bersama-Nya seorang diri (bermeditasi atau
bercakap-cakap dengan-Nya meskipun mungkin itu hanya imajinasiku saja), dalam
bentuk semangat menyanyi untuk memuji Tuhan, dan dalam bentuk bekerja dan
belajar. Aku sungguh-sungguh kehilangan diriku yang lama. Kebiasaanku yang
tertinggal hanyalah berdoa dalam bentuk menyanyi. Ada orang berkata bahwa
Lucifer merupakan seorang penyanyi yang ulung. Mungkinkah dia tetap memuji
Tuhan disela dia ingin menghancurkan manusia? Aku tidak ingin seperti dia. Aku
tidak ingin hancur oleh hasrat dia dan pasukannya. Sebuah ponsel pintar
dapat menunjang kehidupan kehidupan manusia, namun tak jarang dapat menghancurkan
kehidupan manusia. Aku sungguh-sungguh sudah lama tidak berdoa dalam bentuk
belajar dan membantu orang tua membersihkan rumah dan berdoa dalam bentuk saat
hening semua karena aku menuruti perkataan iblis sehingga aku tak bisa lepas
dari ponsel pintar. Aku mungkin bisa terlepas dari ponsel pintar ketika bertemu
dan bercakap-cakap dengan orang lain, namun ketika sudah berada di kamar tidur
aku tak bisa melepas ponsel pintar itu dariku seakan ada hal yang harus selalu
aku lakukan dengan handphoneku meskipun pada akhirnya aku hanya menghabiskan
waktuku dengan percuma.
Sudah 3 semester banyaknya aku
larut dalam kemalasan. Semester kali ini, yaitu semester 5, akan menjadi saat
terakhir aku malas-malasan. Terakhir kalinya aku berpikiran bahwa aku tak
berdaya menghadapi bisikan iblis (pemberi nafsu birahi, pemberi nafsu
kemalasan, dll). Aku tidak ingin menjadi diriku yang dari semester 3 hingga
semester 5. Tuhan telah memberikan tangan-Nya dan membantuku untuk bangkit. Sebuah
sesi pengakuan dosa tidaklah cukup untuk membantuku bangkit. Kali ini, dengan
segala sisa tenaga yang aku miliki dan dibantu oleh energi kekal yaitu energi
Tuhan sendiri aku akan bangkit dan menerjang dan menghadang serangan iblis.
Sleman, 1 Januari 2017
Basilius Renal Abimanyu Palumpun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar