Jumat, 24 November 2017

Renungan Alkitab


DANIEL 11



Kitab Daniel bab ini banyak menceritakan mengenai perang besar yang akan terjadi di tanah Persia. Akan muncul 2 kerajaan utama yang saling berseteru yaitu kerajaan Utara dan kerajaan Selatan. Perang ini berlangsung terus-menerus dari generasi ke generasi. Ada kalanya kerjaan utara yang menang dan ada kalanya kerajaan selatan yang menang. Mereka saling menjarah dan mereka saling membuat dewa mereka sendiri.

Kerajaan mereka masing-masing hancur akibat kesombongan, merasa diri paling hebat. Di bab ini, mungkin Tuhan ingin mengingatkan pembaca firman bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua dapat direnggut seketika dan dapat diberikan seketika. Dan kita diminta untuk tidak menyombongkan diri.

Pada ayat ke-32 hingga ke-34, mungkin pula Tuhan ingin menyadarkan pembaca pula bahwa untuk dapat masuk kedalam kerajaan Surga akan diadakan “kompetisi” seperti kompetisi talenta-talenta yang ada di dunia ini. Namun, “kompetisi” yang dimaksud disini adalah Tuhan akan menyaring dan memurnikan orang-orang yang menurut-Nya layak untuk masuk ke kerajaan Surga, orang-orang yang layak menjadi pemenang. Dan orang-orang yang dimaksud ini adalah orang-orang yang selalu mengikuti kehendak Tuhan dan siapapun yang kuat uji. Jadi siapapun Anda, bersiaplah agar Anda tahan uji terhadap ujiannya. Anda akan “disiksa” dengan sedikit pertolongan. Bila Anda selalu mengandalkan Tuhan maka “siksaan” itu tidak akan terasa berat. Dan pada akhir zaman Tuhan akan menunjuk orang yang tahan uji menjadi pemenang. Dan siapapun itu akan masuk kedalam kerajaan Surga.

Berjaga-jagalah karena “pencuri” datang secara tiba-tiba, usahakan Anda pantas dihadapan-Nya. Selalu lakukan yang terbaik di mata Tuhan setiap hari.



TUHAN MEMBERKATI

Sabtu, 18 November 2017

Renungan Pribadi Alkitab


DANIEL 10



Tidak semua orang dipilih Allah menjadi orang terpilih. Mungkinkah Daniel dianggap Tuhan layak karena seringnya ia berpuasa, meskipun buka berpuasa tanpa makan, selain Ia rajin berdoa kepada Tuhan? Ia berpuasa tidak memakan makanan yang sedap/enak dan juga tidak makan daging serta anggur. Menjadi orang terpilih memang sulit. Sering kali kita melupakan waktu berdoa kita.

Di kitab Daniel pasal ini, Daniel ditampakkan oleh seseorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang dari emas dari Ufas, tubuhnya seperti permata Tarsis, dan wajahnya seperti cahaya kilat. Disini menjukkan bahwa sosok ini bukanlah manusia biasa. Dan Daniel lah yang terpilih. Hanya Daniel yang dapat melihat dia sedang yang lain bersembunyi.

Ayat ke-8 semakin menguatkan bahwa orang ini bukanlah manusia biasa. Bisa jadi ia adalah Tuhan itu sendiri atau malaikat Tuhan. Di ayat selanjutnya, sepertinya Tuhan ingin menyampaikan bahwa kita seharusnya merendahkan diri kita di hadapan Tuhan karena kita hanyalah manusia lemah dan tanpa kekuatan dari-Nya kita tidak memiliki kekuatan apapun (badan lemas tak berdaya).

Pada ayat ke-20 dan seterusnya, mungkin juga Tuhan ingin menunjukkan bahwa siapapun manusia yang meninggikan dirinya (menyombong diri) dia akan diperangi oleh Allah sendiri.

Hal yang dapat kupelajari dari pasal 10 ini adalah kita sudah sepatutnya merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus selalu berserah kepada-Nya, menyerahkan hidup kita di hadapan-Nya. Kita percayakan kehidupan kita kepada Dia yang empunya dunia ini. Bagaimana caranya? Dengan kita selalu berdoa kepada-Nya. Memberikan waktu kita untuk duduk diam dan berdoa kepada-Nya. Dengan berdoa kita menyadari bahwa kita membutuhkan kekuatan Tuhan, dengan berdoa Ia akan memberikan sukacita kepada kita walaupun kita berada dalam masalah. Bukankah yang kita cari di dunia ini adalah sukacita?

Kita mencari uang selain untuk mengenyangkan perut kita, membuat tempat berteduh, bukankah untuk membuat kita bahagia? Sukacita lebih dari bahagia. Hidup bersama Tuhan sangatlah menyenangkan. Marilah selain kita berdoa dengan perbuatan kita, kita berdoa pula lewat waktu hening. AKU AKAN SELALU BERUSAHA. KALAU AKU BISA, KAMU JUGA PASTI BISA.


GOD BLESS YOU ALWAYS

Kamis, 16 November 2017

Renungan Pribadi Alkitab


Daniel 9



Pada ayat 3 – 19, Daniel ingin mengajarkan kita bahwa ketika kita merasa bahwa dunia tidak lagi menuruti firman Tuhan maka patutlah kita memohonkan doa permohonan ampun kepada-Nya. Kita harus berdoa dengan hati yang teguh bahwa Tuhan akan menerima permohonan ampun kita. Kita harus betul-betul sadar apa yang kita doakan dan kita harus benar-benar menggunakan hati kita. Dan kita perlu pula mendoakan dunia ini agar kita dapat benar-benar menjadi TERANG dan GARAM dunia. Tidak melulu lewat perbuatan tapi juga lewat mendoakan siapapun itu.
Pada ayat 20 – 27, disini malaikat Gabriel yang datang kepada Daniel ingin memberitahukan bahwa penebusan dosa sangat besar bayarannya. Daniel memohon ampun kepada Tuhan atas apa yang diperbuat oleh bangsa Israel dan bayarannya adalah mengorbankan seorang yang diurapi Tuhan. Disini, mungkin Gabriel telah memberikan kisi-kisi akan kehadiran Yesus Kristus ke dunia. Ayat 27 menyatakan bahwa peran pemimpin sangat besar dalam kelangsungan hidup rakyatnya. Ketika seorang pemimpin melakukan suatu kesalahan maka akan dapat menimbulkan masalah yang sangat besar dan bisa jadi berkepanjangan bagi rakyatnya, tapi sebaliknya ketika seorang pemimpin melakukan suatu kebaikan maka dapat menimbulkan kesejahteraan yang berkepanjangan. Dan, ketika kita melakukan kesalahan besar terhadap Tuhan maka bisa jadi Tuhan akan membinasakan suatu bangsa. Dari segelintir orang menjadi masalah bersama.

Minggu, 01 Januari 2017


Bangkit, Tangan Tuhan Membantumu



Selamat tahun baru semua,

Hari ini adalah hari yang spesial bagi semua orang, tak terkecuali diriku. Semalam aku menghabiskan waktu bersama teman-teman OMK yang kukasihi dan mengisi kegiatan sebelum tahun baru bersama budhe, pakdhe, dan anak-anaknya, dan bersama keluargaku juga. Di sela kebahagiaan itu, ada saat ketika aku dipermalukan oleh teman-teman yang laki-laki. Dan untungnya aku bisa mengontrol diri untuk tidak emosi meskipun mood bersenang-senangku sudah hilang.

Esoknya, yaitu hari ini. Aku menjalani hidupku seperti biasa yang membosankan (hanya tiduran dan melihat layar ponsel pintar). Seluruh anggota keluargaku, kecuali aku, pergi ke Purwokerto untuk mengunjungi saudara kami. Disaat ini, aku mulai tersadar betapa aku bodoh sehingga aku mudah dipengaruhi oleh nafsuku atau yang aku percaya adalah suara iblis. Aku belum bisa mengalahkan pikiran ini. Saat-saat menuliskan ini pun aku tidak mudah untuk mengalahkannya dan terus menerus diganggu.

Sudah satu tahun lamanya bahkan lebih aku kehilangan diriku yang dulu. Diriku yang semangat dalam berdoa dalam bentuk aku berada dalam kesunyian bersama-Nya seorang diri (bermeditasi atau bercakap-cakap dengan-Nya meskipun mungkin itu hanya imajinasiku saja), dalam bentuk semangat menyanyi untuk memuji Tuhan, dan dalam bentuk bekerja dan belajar. Aku sungguh-sungguh kehilangan diriku yang lama. Kebiasaanku yang tertinggal hanyalah berdoa dalam bentuk menyanyi. Ada orang berkata bahwa Lucifer merupakan seorang penyanyi yang ulung. Mungkinkah dia tetap memuji Tuhan disela dia ingin menghancurkan manusia? Aku tidak ingin seperti dia. Aku tidak ingin hancur oleh hasrat dia dan pasukannya. Sebuah ponsel pintar dapat menunjang kehidupan kehidupan manusia, namun tak jarang dapat menghancurkan kehidupan manusia. Aku sungguh-sungguh sudah lama tidak berdoa dalam bentuk belajar dan membantu orang tua membersihkan rumah dan berdoa dalam bentuk saat hening semua karena aku menuruti perkataan iblis sehingga aku tak bisa lepas dari ponsel pintar. Aku mungkin bisa terlepas dari ponsel pintar ketika bertemu dan bercakap-cakap dengan orang lain, namun ketika sudah berada di kamar tidur aku tak bisa melepas ponsel pintar itu dariku seakan ada hal yang harus selalu aku lakukan dengan handphoneku meskipun pada akhirnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan percuma.

Sudah 3 semester banyaknya aku larut dalam kemalasan. Semester kali ini, yaitu semester 5, akan menjadi saat terakhir aku malas-malasan. Terakhir kalinya aku berpikiran bahwa aku tak berdaya menghadapi bisikan iblis (pemberi nafsu birahi, pemberi nafsu kemalasan, dll). Aku tidak ingin menjadi diriku yang dari semester 3 hingga semester 5. Tuhan telah memberikan tangan-Nya dan membantuku untuk bangkit. Sebuah sesi pengakuan dosa tidaklah cukup untuk membantuku bangkit. Kali ini, dengan segala sisa tenaga yang aku miliki dan dibantu oleh energi kekal yaitu energi Tuhan sendiri aku akan bangkit dan menerjang dan menghadang serangan iblis.


Lead me to your glory, God. Make me strong and unbeatable as saints are.



Sleman, 1 Januari 2017
Basilius Renal Abimanyu Palumpun