Minggu, 17 Juli 2016

SAAT INDAH DI TEPI SUNGAI PROGO

Setelah sekian lama aku tidak menulis, baru hari ini aku menulis lagi. Aku ingin menceritakan bahwa pada hari Sabtu minggu lalu (9 Juli), aku mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Aku bersyukur karena hari itu aku boleh mendapatkan imajinasi bertemu dan bercerita dengan Tuhan Yesus. Let start to begin this story.
Kegiatan hari ini kujalani seperti biasa dan tidak ada rasa semangat. Hari ini aku diajak pergi oleh keluargaku unutk jalan-jalan menemani calon istri dari sepupuku beserta sepupu-sepupuku disertai orang tua mereka masing-masing dari papaku yang hendak melihat lokasi pernikahannya dan melihat keadaan tanah yang akan mereka gunakan untuk tinggal di daerah istimewa Yogyakarta ini. Awalnya aku malas-malasan untuk meng-iya-kan ajakan orang tuaku. Sambil mengumpulkan nyawa dan semangat, akhirnya, aku meng-iya-kan ajakan mereka. Aku bersiap-siap lalu berangkat. Sepanjang perhentian aku hanya beberapa kali turun dari mobil. Saat di gereja Katolik Pakem, tempat pemberkatan mereka, aku keluar dari kendaraan. Saat di lokasi resepsi aku pun keluar mobil.
Selingan, lokasi resepsi itu sangat indah. Lokasinya di jalan Kaliurang km 20 atau berapa, bernama Kalyana, lokasinya sangat strategis. Tempatnya ada kolam renang dan tempat duduk untuk rebahan di sampingnya. Dan cuaca saat itu berangin dan sangat teduh.
Lanjut ke cerita, sepanjang perjalanan aku merasa pusing, itulah sebabnya aku sangat malas untuk keluar mobil. Di mobil, aku selalu tiduran di kursi paling belakang karena kebetulan aku duduk sendiri di belakang. Aku keluar ketika aku merasa kepanasan di dalam mobil dan saat aku ingin bercerita dengan sepupu-sepupuku dan keluargaku.
Cerita tentang pertemuanku dengan Yesus berawal ketika kami sampai di gua Maria Sendang Jatiningsih tepat di sebelah sungai Progo. Sesampainya di Jatiningsih, aku berimajinasi sehingga aku ingin sekali turun ke bawah, ke sungai Kulon Progo. Akhirnya aku turun. Aku sempat berdiam diri di sungai Progo sambil merasakan hembusan angin dan aliran sungai Progo yang menyentuh bulu-bulu pada kakiku dan kulit kakiku. Aku merasa tenang disana, tapi ada satu hal yang menggangguku disana. Aku sedikit ketakukan melihat batu besar di 5 meter setelah tepi sungai yang dapat memecah kencangnya aliran air sungai. Imajinasiku pun mulai bermain kembali, aku takut kalau batu besar itu adalah buaya, akhirnya aku naik ke tepi. Dan mengakhiri petualanganku menuju sungai Progo dan kembali keatas, ke tempat doa Jatiningsih. Dengan tenaga yang masih banyak dan dengan mengeluarkan keringat yang banyak akhirnya aku sampai lagi di atas. Setelah air keringatku cukup kering aku pun cuci muka dan kaki. Aku hening sejenak di dekat tempat duduk adikku yang setelah berdoa bermain smartphonenya. Aku hening dan disaat hening itu aku merasa seperti merasa ingin sekali berdoa di kapel adorasi. Karena jujur saja, aku justru tidak bisa berdoa kalau berada di depan patung Bunda Maria atau salib Yesus di Sendang Jatiningsih. Aku tidak merasa “klik”. Aku akhirnya naik ke kapel adorasi.
Petualangan dimulai disini. Aku masuk, membuat tanda salib. Berlutut dan meditasi sejenak. Menutup mata, menegakkan tulang belakangku, dan menyilangkan kakiku, serta menarik napas dengan berkata Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Entah di menit keberapa, aku mulai berimajinasi namun aku masih bisa merasakan tubuhku dan merasakan tarikan dan hembusan napasku. Di imajinasiku itu, aku masih berada di sekitar Jatiningsih terutama di kapel tetapi dengan pemandangan yang berbeda. Kapel itu sekarang berada di atas jurang tepi sungai Kulon Progo, tanpa pohon yang menutupi tampaknya sungai dan daratan seberang sungai. Aku berjalan keluar kapel lewat pintu samping, awalnya aku masuk lewat pintu depan. Aku berjalan mendekati pinggir tepi sungai, mendekati pegangan di dekat situ. Tiba-tiba dari belakang muncul sosok yang aku kenal di gambar-gambar rumahku. Ya, dia Yesus. Dia mendekatiku dan memberikan salam “hai” sambil menyampingkan badannya dari pinggir sungai, memandangku, sembari menyenderkan tangan-Nya di atas besi pegangan. Aku pun menjawab sapaan-Nya. Setelah itu, aku bercerita banyak hal pada-Nya. Aku sudah lupa bercerita apa saja pada-Nya. Yang aku ingat adalah 3 hal. Pertama, aku bertanya tentang panggilanku, kedua aku bertanya tentang perempuan, ketiga aku bertanya tentang membantu orang tua membersihkan rumah. Aku lupa urutannya, tapi mari kita mulai saja.
Aku bertanya, “Yesus, apa salah kalau aku biarin mamaku kerja bersih-bersih rumah sendiri? Menurutku sih, lumayan untuk beliau olahraga.” Yesus pun menjawab, “Kamu salah, tidak tahukah kamu kalau mamamu itu mengeluh dan sedih ketika dia bekerja sendirian? Tidak kasihan kah kamu melihat dia keletihan? Yang harus kamu pegang adalah membantu orang tua agar orang tuamu bahagia dan senang melihat kamu membantunya membersihkan rumah. Perasaan bahagia dan senang itu sangat mahal harganya loh. Begini, masalah kesehatan itu adalah urusan-Ku. Dia tidak olahraga pun kalau aku mau dia sehat ya dia pasti sehat. Jadi ingatlah, kamu membantu bukan seperti diperbudak, tetapi demi meraih kebahagiaan dan senang dari mamamu. Tidak senangkah kamu melihat senyuman dan pujian darinya ketika kamu membantunya membersihkan rumah?” “Sangat bahagia, Yesus”, kataku.
“Yesus, aku mau tanya lagi. Bener gak sih kalau aku kamu panggil jadi romo?” Yesus pun menjawab, “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu harus menemukannya sendiri. Aku akan memberikan jawaban ketika kamu telah menemukanku di suatu peristiwa. Coba kamu ikuti saran dari romo Nano. Benar kata dia, coba kamu masuk dulu disana. Lebih baik mencoba sebelum menikah daripada sudah beberapa tahun menikah menyesal karena bukan panggilan hatimu.” Aku pun hanya termenung mendengar perkataan-Nya.
“Yesus, aku mau tanya, kenapa sih banyak cewek yang nolak aku bahkan gak mau sama aku?” Dia pun menjawab, “Kamu belum siap. Ada saatnya aku memberikanmu wanita yang kamu idamkan. Sekarang kamu harus mengembangkan dirimu dulu. Tunjukkan kalau kamu sudah siap. Jaga baik-baik kesucianmu.” Kami sempat saling pandang sejenak kemudian kami sama-sama memandang sungai di depan kami dan kemudian semua menjadi gelap.

Semua kubawa dalam doa dan semua berakhir disini. Petualanganku bersama Yesus hari itu berakhir disini. Aku percaya suatu saat nanti kami akan bertemu kembali entah dalam meditasi lagi atau dalam perayaan Ekaristi, dan lain-lain.

Sleman, 17 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar