Rabu, 27 April 2016

INSIDE ME IS A WARRIOR

Hari ini aku merasa aku sangatlah malas. Sungguh malas. Aku menghabiskan waktuku untuk menonton TV dan bersosial media meski tidak tahu siapa yang aku ajak chatting. Ah, betapa buruknya aku. Kemarin, aku akhirnya kembali mengikuti komunitas yang kira-kira 3 minggu lamanya tidak aku ikuti. Aku sharing ke mereka tentang apa yang kurasakan. Aku benar-benar kosong. Pikiranku kosong. Kemalasan. Dan imajinasi-imajinasi liar tentang perempuan kembali memenuhi pikiranku. Tuhanku, mengapa ini terjadi? Ya, aku ingat betul bahwa aku sudah 3 minggu tidak berdoa Kerahiman Ilahi. Sungguh, aku selalu merasa mengantuk pada saat jam 3 sore. Namun, bila kurenungkan, semua itu terjadi karena aku terlalu sering membuka sosial media di smartphoneku dan menonton televise. Karena mereka berdua kantukku tak tertahankan. Selesai sharing, aku diberi sedikit nasihat oleh pendamping kelompok. Begini isinya “Selesai Seminar Hidup Baru dalam roh kita akan menggebu-gebu iman kita berapi-api, semangat hidup kita menyala-nyala. Tapi, ada satu makhluk yang tidak suka dengan itu semua dan ia akan berusaha meredupkan semangat itu. Ya, setan. Musuh terbesar dan terkuat kita. Dia merubah kita tidak secara drastis dari yang baik menjadi jahat, dari yang jujur menjadi pembohong, dari yang mengusahakan sesuatu untuk kelangsungan hidup kita dengan jalan yang diharapkan Tuhan menjadi seorang perampok atau koruptor demi menjamin kelangsungan hidup kita. Dia merubah kita sedikit demi sedikit. Dia akan merubah jalan kita yang mulanya 180 derajat menuju Tuhan menjadi 197 atau kurang atau lebih dari itu, sedikit demi sedikit agar kita tidak dapat merasakannya. Hal pertama yang dia berikan adalah kemalasan. Ya, inilah masalah yang terlihat kecil bagi kita ternyata akan berdampak sangat buruk bagi kita sendiri. Intinya adalah penguasaan diri. Bagaimana caranya agar mampu menguasai diri sendiri? Berdoa dan bermeditasi, itulah intinya.”
Meditasi, hari ini aku melakukannya. Kupejamkan mataku sejenak dan seketika aku berada diatas perbukitan. Hijau dan sangat segar. Aku berjalan-jalan sejenak di bukit itu. Dari kejauhan aku melihat segerombolan orang berkumpul. Aku mendekati mereka. Oh iya, pakaianku waktu itu seketika berubah. Aku membawa sebilah pedang dan memakai baju zirah, sama seperti ksatria yang memakai pakaian perang ketika masa kerajaan. Dengan gaya seperti ksatria yakni tangan kanan memegang gagang pedang, aku mendekati gerombolan orang itu. Ketika nyaris bertatap muka, aku melihat ada seorang yang sangat mirip dengan lukisan-lukisan Yesus zaman ini. Ia berambut panjang dan tampan. Di sekitarnya ada 4 orang anak kecil. Sepertinya pria ini sedang mengajari anak-anak itu. Dibelakang mereka ada seorang ksatria, dengan tangan satu bersandar di bawah pohon sembari memakan sebuah apel. Apel itu berwarna hijau, ia baru memakannya sedikit ketika aku masih agak jauh dari tempat itu. Aku penasaran dengan lelaki itu tentang yang ia sedang lakukan terhadap 4 orang anak itu. Aku dekati lagi. Ah, ternyata ia sedang mengajari mereka menggambar. Ya, tempat itu sepertinya memang sangat cocok untuk menggambar maupun melukis. Di tempat kami itu terdapat bukit lain di sebelah utara kami. Hijau dan sungguh pemandangan disana sungguh indah.
Aku kembali merasakan tubuh asliku. Bulu kudukku merinding dan aku merasa dikelilingi oleh makhluk tak kasat mata mengelilingiku. Jujur, aku sedikit takut. Aku lupa bahwa ketika bermeditasi aku harus menyebutkan nama Yesus ketika menarik dan menghembuskan napas. Seketika suasana kembali lagi menjadi nyaman. Kemudian aku kembali terangkat dan masuk kedalam suatu tempat dan disaat itu aku mengadu pedang dengan sebuah/seorang makhluk/manusia namun ketika aku merasakan tubuhku di tempat itu, ia menerkamku dan seketika aku membuka mata dan kembali ke kehidupanku seperti semula.
Semoga dengan meditasi ini dan seterusnya, aku semakin mampu mengendalikan diriku sendiri sehingga hidupku lebih berguna dan menyenangkan. Untuk saat ini, aku merasakan damai dan ketenangan batin namun bila aku biasakan setiap hari aku percaya hidupku akan jauh lebih baik lagi.



Sleman, 27 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar