Selasa, 05 April 2016

THIS IS ME AND I'M READY, GOD

Sleman, 3 April 2016. Hari ini aku merasakan kasih Allah yang sungguh luar biasa. Aku bisa berkata seperti ini karena, ini. Hari Minggu merupakan hari dimana OMK (Orang Muda Katolik) parokiku berjualan setiap hari demi mengisi kas kepengurusan. Biasanya, tiap selesai berjualan aku tidak ingin pulang dan pasti menghabiskan waktuku untuk berbincang-bincang dengan mereka. Kali ini, aku memutuskan untuk mengakhiri pertemuan dengan mereka di siang itu. Aku pulang. Sesampainya di rumah, aku tak tahu harus melakukan apa. Namun, ada suatu bisikan dan imajinasi yang mengatakan dan bercerita “Kayaknya seru kalau baca Alkitab”, akhirnya aku membaca Alkitab. Tak lama, seselainya aku membaca satu bab, ada lagi imajinasi yang mengatakan “Kayaknya kalau baca Alkitab di sawah asik juga nih” then I go. Jam menunjukkan pukul 14.00 dimana sang mentari mengeluarkan tenaganya yang sebesar-besarnya, namun aku tetap merasa nyaman disana. Panas bukan penghalang bagiku. Aku menikmati teriknya sang mentari. Aku tidak menolak teriknya namun aku menerimanya dan menikmatinya. Dengan menerima, sang mentari tidak membahayakan kita.
Selesailah sudah dua bab kubaca disana, terciptalah lagi imajinasi “Kayaknya kalau baca disana asik juga”. Akhirnya aku menuju tujuanku yaitu “buk” sungai di sawah itu. Di perjalanan, dengan Alkitab di tangan kananku, aku merasa tangan kananku ditarik dan angin berhembus kencang dan aku seperti merasa di depanku ada seseorang yang menuntunku. Sedikit lagi sampai, tapi tunggu, aku dihentikan pada suatu tempat, aliran sebelum tempat itu. Kulihat bahwa banyak sekali sampah disana. Oh Tuhan, betapa buruk masyarakat Indonesia itu. Membuang sampah sembarangan. Tidak sadarkah mereka bahwa membuang sampah membuat pemandangan menjadi tidak sedap dipandang selain itu dapat menyebabkan banjir akibat pendangkalan dasar sungai dan menyumbat sungai sehingga tekanannya besar dan ketika tumpukan sampah tersebut sudah tidak kuat menahannya maka akan terjadi hal yang tidak kita harapkan, banjir. Lanjut cerita, dengan tuntutan hati kecilku, aku membersihkan semuanya di daerah itu. Namun, aku tidak menyiapkan kantong plastik untuk menaruhnya. Ah, ada sekantong plastik yang masih cukup baik untuk kugunakan. Niat baik selalu dilindungi oleh Tuhan. Ketika aku mengambil sampah yang cukup jauh, aku menjejakkan kakiku ke dasar sungai yang dangkal itu, aku merasakan bahwa di bawah kakiku terdapat pula sampah. Setelah sampah jauh itu kuambil, aku mengambil sampah yang dibawah kakiku itu dan begitu kutarik sampah itu, aku bersyukur, karena ternyata sampah itu adalah pecahan gelas kaca.
Aku pulang, dua kantong plastik berisi sampah aku buang pada tempatnya. Sesampainya di rumah aku melakukan kebiasaan yang telah lama kutinggalkan, doa Kerahiman Ilahi. Aku sungguh-sungguh rindu bertemu dengan Yesus dalam doa itu. Aku rindu, sangat-sangat rindu. Aku berdoa sepenuh hati dan ketika aku benar-benar mengatakan bahwa aku rindu dan bertemu diri-Nya, Ia memberikan damai dan tugas untuk melihat kesungguhanku. Aku bertugas lektor (pembaca firman Tuhan), tak kusangka kala itu. Aku yang hanya berniat untuk menyampaikan rinduku pada-Nya dengan mengikuti misa diberikan berkat 2 kali lipat. Delapan menit sebelum misa dimulai, aku dimintai tolong oleh teman gereja yang kala itu bertugas sebagai koor namun ia juga seorang lektor. Aku sejenak bertanya “Tapi Tuhan, aku tidak melakukan persiapan apapun, aku takut mengecewakan-Mu”. Namun, tanpa berlama-lama lagi aku langsung pergi dan aku berkata “ya Tuhan, aku bersedia, bimbinglah aku”. Keajaiban kata “ya” untuk Tuhan membuatku dimampukan dan melampaui kemampuanku. Aku pernah suatu ketika berlatih lektor, namun tidak sebagus ini. Suaraku, intonasi, dinamikaku sungguh diluar kemampuan dasarku. Aku melihat seluruh umat, dan banyak umat yang mendengarkanku dengan serius dan ada pula yang merenung dengan memejamkan mata. Sungguh, keajaiban ini membuat aku semakin bahagia. Puncak kebahagiaanku aku serahkan pada saat doa umat. Aku sungguh mendoakan apa yang ada di dalam kertas panduan, dan rasanya “wow”. Sejenak aku merasa di hadapanku seperti Yesus benar-benar menatapku dengan penuh kesungguhan. Oh Tuhan, inikah kebahagiaan surgawi? Sepanjang misa, aku menyanyikan lagu-lagu yang aku tahu dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Aku tidak dapat membendung keharuanku. Sejenak aku menangis terharu. Allahku ya Allahku, Engkau kah itu yang datang ke hadapanku. Engkau kah itu yang menyerahkan tubuh dan darah-Mu dalam rupa roti dan anggur di altar? Tuhan, sungguh aku dapat merasakan kehadiran-Mu. Kasih-Mu yang besar sungguh mengubah hidupku.
Selesainya misa sungguh mengubah hidupku. Awalnya aku merasa putus asa, aku bingung harus berbuat apa. Namun kali ini, aku lebih semangat dalam hidupku. Segala masalah hidupku kini bukan apa-apa. Namun, kadang kala, aku jatuh, ketika aku cemburu pada seseorang yang kelihatannya lebih perhatian dan lebih bermakna di mata perempuan yang aku sayangi itu. Aku sedih, aku cemburu, aku sakit hati, hatiku patah Tuhan. Namun, Tuhan menyembuhkan patah hatiku di jam 1 – 2 pagi hari di hari Rabu. Ia menunjukkan aku berbagai macam video renungan mengenai Dia dan permasalahan hidupku. “Tuhan, terima kasih. Sekarang aku tahu, aku tidak akan bermotivasi semangat dalam hidup untuk manusia tapi aku akan bersemangat dalam hidupku terutama melawan kemalasanku demi melayakkan diriku demi diri-Mu dan setelah itu aku akan berdiri, menjaga tonggak arah penunjuk jalan menunju rumah-Mu sampai pada akhirnya Engkaulah yang hadir sendiri untuk mengakhiri tugas perutusanku. Tuhan inilah aku, pakailah aku, kuatkan aku ketika aku jatuh, hiburlah aku ketika sedih, dan berikanlah aku sukacita surga.” You raise me up, God. And this is me. I’m ready. Walk with me and guide me your way.


Sleman, 6 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar