THIS IS ME AND I'M READY, GOD
Sleman,
3 April 2016. Hari ini aku merasakan kasih Allah yang sungguh luar biasa. Aku
bisa berkata seperti ini karena, ini. Hari Minggu merupakan hari dimana OMK
(Orang Muda Katolik) parokiku berjualan setiap hari demi mengisi kas
kepengurusan. Biasanya, tiap selesai berjualan aku tidak ingin pulang dan pasti
menghabiskan waktuku untuk berbincang-bincang dengan mereka. Kali ini, aku
memutuskan untuk mengakhiri pertemuan dengan mereka di siang itu. Aku pulang.
Sesampainya di rumah, aku tak tahu harus melakukan apa. Namun, ada suatu
bisikan dan imajinasi yang mengatakan dan bercerita “Kayaknya seru kalau baca
Alkitab”, akhirnya aku membaca Alkitab. Tak lama, seselainya aku membaca satu bab,
ada lagi imajinasi yang mengatakan “Kayaknya kalau baca Alkitab di sawah asik
juga nih” then I go. Jam menunjukkan pukul 14.00 dimana sang mentari
mengeluarkan tenaganya yang sebesar-besarnya, namun aku tetap merasa nyaman
disana. Panas bukan penghalang bagiku. Aku menikmati teriknya sang mentari. Aku
tidak menolak teriknya namun aku menerimanya dan menikmatinya. Dengan menerima,
sang mentari tidak membahayakan kita.
Selesailah
sudah dua bab kubaca disana, terciptalah lagi imajinasi “Kayaknya kalau baca
disana asik juga”. Akhirnya aku menuju tujuanku yaitu “buk” sungai di sawah
itu. Di perjalanan, dengan Alkitab di tangan kananku, aku merasa tangan kananku
ditarik dan angin berhembus kencang dan aku seperti merasa di depanku ada
seseorang yang menuntunku. Sedikit lagi sampai, tapi tunggu, aku dihentikan
pada suatu tempat, aliran sebelum tempat itu. Kulihat bahwa banyak sekali
sampah disana. Oh Tuhan, betapa buruk masyarakat Indonesia itu. Membuang sampah
sembarangan. Tidak sadarkah mereka bahwa membuang sampah membuat pemandangan
menjadi tidak sedap dipandang selain itu dapat menyebabkan banjir akibat
pendangkalan dasar sungai dan menyumbat sungai sehingga tekanannya besar dan
ketika tumpukan sampah tersebut sudah tidak kuat menahannya maka akan terjadi
hal yang tidak kita harapkan, banjir. Lanjut cerita, dengan tuntutan hati kecilku,
aku membersihkan semuanya di daerah itu. Namun, aku tidak menyiapkan kantong
plastik untuk menaruhnya. Ah, ada sekantong plastik yang masih cukup baik untuk
kugunakan. Niat baik selalu dilindungi oleh Tuhan. Ketika aku mengambil sampah
yang cukup jauh, aku menjejakkan kakiku ke dasar sungai yang dangkal itu, aku
merasakan bahwa di bawah kakiku terdapat pula sampah. Setelah sampah jauh itu
kuambil, aku mengambil sampah yang dibawah kakiku itu dan begitu kutarik sampah
itu, aku bersyukur, karena ternyata sampah itu adalah pecahan gelas kaca.
Aku
pulang, dua kantong plastik berisi sampah aku buang pada tempatnya. Sesampainya
di rumah aku melakukan kebiasaan yang telah lama kutinggalkan, doa Kerahiman
Ilahi. Aku sungguh-sungguh rindu bertemu dengan Yesus dalam doa itu. Aku rindu,
sangat-sangat rindu. Aku berdoa sepenuh hati dan ketika aku benar-benar
mengatakan bahwa aku rindu dan bertemu diri-Nya, Ia memberikan damai dan tugas
untuk melihat kesungguhanku. Aku bertugas lektor (pembaca firman Tuhan), tak
kusangka kala itu. Aku yang hanya berniat untuk menyampaikan rinduku pada-Nya
dengan mengikuti misa diberikan berkat 2 kali lipat. Delapan menit sebelum misa
dimulai, aku dimintai tolong oleh teman gereja yang kala itu bertugas sebagai
koor namun ia juga seorang lektor. Aku sejenak bertanya “Tapi Tuhan, aku tidak
melakukan persiapan apapun, aku takut mengecewakan-Mu”. Namun, tanpa berlama-lama
lagi aku langsung pergi dan aku berkata “ya Tuhan, aku bersedia, bimbinglah aku”.
Keajaiban kata “ya” untuk Tuhan membuatku dimampukan dan melampaui kemampuanku.
Aku pernah suatu ketika berlatih lektor, namun tidak sebagus ini. Suaraku,
intonasi, dinamikaku sungguh diluar kemampuan dasarku. Aku melihat seluruh
umat, dan banyak umat yang mendengarkanku dengan serius dan ada pula yang
merenung dengan memejamkan mata. Sungguh, keajaiban ini membuat aku semakin
bahagia. Puncak kebahagiaanku aku serahkan pada saat doa umat. Aku sungguh
mendoakan apa yang ada di dalam kertas panduan, dan rasanya “wow”. Sejenak aku
merasa di hadapanku seperti Yesus benar-benar menatapku dengan penuh
kesungguhan. Oh Tuhan, inikah kebahagiaan surgawi? Sepanjang misa, aku
menyanyikan lagu-lagu yang aku tahu dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Aku tidak
dapat membendung keharuanku. Sejenak aku menangis terharu. Allahku ya Allahku,
Engkau kah itu yang datang ke hadapanku. Engkau kah itu yang menyerahkan tubuh
dan darah-Mu dalam rupa roti dan anggur di altar? Tuhan, sungguh aku dapat
merasakan kehadiran-Mu. Kasih-Mu yang besar sungguh mengubah hidupku.
Selesainya
misa sungguh mengubah hidupku. Awalnya aku merasa putus asa, aku bingung harus
berbuat apa. Namun kali ini, aku lebih semangat dalam hidupku. Segala masalah
hidupku kini bukan apa-apa. Namun, kadang kala, aku jatuh, ketika aku cemburu
pada seseorang yang kelihatannya lebih perhatian dan lebih bermakna di mata
perempuan yang aku sayangi itu. Aku sedih, aku cemburu, aku sakit hati, hatiku
patah Tuhan. Namun, Tuhan menyembuhkan patah hatiku di jam 1 – 2 pagi hari di
hari Rabu. Ia menunjukkan aku berbagai macam video renungan mengenai Dia dan
permasalahan hidupku. “Tuhan, terima kasih. Sekarang aku tahu, aku tidak akan
bermotivasi semangat dalam hidup untuk manusia tapi aku akan bersemangat dalam
hidupku terutama melawan kemalasanku demi melayakkan diriku demi diri-Mu dan
setelah itu aku akan berdiri, menjaga tonggak arah penunjuk jalan menunju rumah-Mu
sampai pada akhirnya Engkaulah yang hadir sendiri untuk mengakhiri tugas
perutusanku. Tuhan inilah aku, pakailah aku, kuatkan aku ketika aku jatuh,
hiburlah aku ketika sedih, dan berikanlah aku sukacita surga.” You raise me up,
God. And this is me. I’m ready. Walk with me and guide me your way.
Sleman, 6 April
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar